Food Not Bombs - Report

Kolom ini adalah kolom reportase dari setiap tabling yang digelar oleh Food Not Bombs chapter Mata Kucing, Jakarta. Siapapun bisa mengirim laporan tentang kegiatan-kegiatan Food Not Bombs chapter Mata Kucing ini. Silahkan kirim email ke fnbjkt@lycos.com untuk posting reportase.

Saturday, July 01, 2006

Tabling Ke-tujuh FNB, 28 Januari 2006, Perempatan Cilandak - Jakarta Selatan.

Ide untuk membuat tabling ini terlontar waktu salah seorang teman dari Distro Movement berkunjung ke dipepi. Kebetulan teman tadi memang sudah tahu tentang Food Not Bombs namun belum pernah melihat kegiatan ini maupun ikut dalam proses pembuatan tabling. Makanya kita tawarkan untuk menggelar tabling di depan distronya dia yang memang kebetulan terletak di pinggir jalan di daerah ramai di Jakarta Selatan.

Selain itu, memang kita juga ingin menggelar tabling yang waktunya malam hari karena selama ini tabling yang kita gelar waktunya selalu siang hari. Walaupun memang persiapannya hanya tinggal seminggu, tapi ternyata di hari H, banyak yang membantu untuk menggelar tabling ini. Selain memang sosialisasi kegiatan ini di dipepi cukup gencar, di malam sebelumnya ada kelas Mata Kucing di dipepi, sehingga banyak teman yang memang sudah ada di dipepi untuk mempersiapkan tabling dari semalam sebelumnya. Oh ya, Mata Kucing adalah kelas inggris setiap Jumat malam yang digelar oleh anak-anak dipepi untuk teman-teman dipepi lainnya.

Dan ternyata hasil sweeping pasar walaupun cuman sebentar dan dilakukan oleh satu orang dari kami saja, bisa mendapat satu tas besar berisi sawi hijau, kangkung, wortel, buncis, kemangi dan bonus satu tas besar tauge. Menu tabling kali ini memang disamakan dengan tabling sebelumnya, pecel dan bihun goreng, karena mudah dibuat dan bisa dikonsumsi tanpa nasi. Sehingga seperti yang direncanakan sebelumnya, jam 4 sore kami sudah mulai berdatangan satu persatu ke distro Movement.

Kebetulan di sebelah distro ini ada bekas restoran yang mejanya masih bisa digunakan untuk tabling, sehingga langsung kami persiapkan disitu tablingnya. Seorang teman juga berhasil mendapatkan roti isi coklat dan roti kering berlapis gula dari temannya yang bekerja dipabrik roti sehingga menu kami pun bertambah macamnya. Tapi ternyata dari jam 4 sore sampai jam 6, lokasi tabling kami ini hanya dilewati oleh anak sekolah dan pejalan kaki. Beberapa pemulung maupun tukang yang sedang bekerja di dekat situ sempat makan makanan kami namun tidak terlalu banyak. Barter Bag kembali digelar namun memang belum ada dari teman-teman kami yang melakukan barter karena kampanye ini masih terlalu baru untuk teman-teman di Movement, tampaknya. Beberapa anak-anak yang datang-pergi di Movement juga sempat bertanya tentang kegiatan ini dan kami pun membagikan flier pada mereka.

Tiba-tiba teman kami punya ide untuk pindah lokasi ke tempat yang lebih strategis tidak jauh dari situ, yaitu tepat di perempatan jalan antara Cilandak, Fatmawati, dan Pondok Labu. Kami pun dengan cepat memindahkan barang-barang kami dan untungnya teman kami tadi juga berhasil mendapat pinjaman meja, sehingga kami pun bisa langsung menggelar tabling dengan cepat disana.

Ternyata benar saja, karena lokasinya tepat berada di bawah baleho besar ClearNation dan tepat berada di perempatan jalan dimana saat lampu merah banyak kendaraan yang berhenti dan penumpangnya pun melihat tabling kami; para pengamen dan anak jalanan juga ternyata banyak sekali di dekat situ, sehingga dengan cepat mereka berdatangan ke tempat kami.

Makanan dengan cepat dibagikan, obrolan dengan beberapa anak pengamen dan para pengamen dewasa mulai terjalin, pakaian dan barang-barang yang ada dalam Barter Bag pun mulai berpindah tangan. Beberapa anak pengamen yang cepat akrab dengan kami, langsung ikut duduk nongkrong bersama kami sambil bermain dengan pakaian yang ada dalam Barter Bag. Beberapa flier FNB mulai berpindah tangan juga ke mereka yang bertanya apakah kami berada dalam sebuah organisasi tertentu ataupun tujuan tabling yang kami gelar ini.

Hingga akhirnya makanan yang bersisa adalah pecel dan hujan mulai turun rintik rintik. Dengan cepat kami beres-beres untuk kembali ke distro Movement. Sesampainya disana, makanan yang bersisa cepat kami bungkus dan peralatan makan dicuci. Hujan turun makin deras hingga akhirnya kami nongkrong dulu di sana sambil menunggu hujan berhenti. Makanan yang dibungkus tadi ternyata beberapa kemudian dimakan teman-teman di Movement sebelum sisanya akan didistribusikan di perempatan jalan begitu hujan berhenti.

Jam sepuluh kami pun kembali ke dipepi.


-V-

Tabling Ke-enam FNB, 14 Januari 2006, Taman Sambas - Jakarta Selatan.

Sudah setahun ternyata, sejak terakhir kali sel FNB dipepi menggelar tabling di Taman Sambas. Sebuah taman kota tak begitu jauh dari dipepi, terletak di pinggir jalan Panglima Polim. Tapi memang dari semua tabling yang pernah kami buat, tabling di Taman Sambas adalah yang paling menyenangkan. Suasananya, tempatnya, mereka yang ikut kegiatan ini serta kami sendiri, para sukarelawan di sel dipepi yang membuat tabling disana.

Semalam sebelumnya beberapa dari kami sudah menginap di dipepi untuk ikut sweeping sayuran di pasar, mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat pecel. Seperti yang sudah disetujui sebelumnya menu makanan yang akan dibuat adalah pecel, bakwan goreng, bihun goreng dan agar-agar. Jam 5 pagi, kami berempat berangkat ke pasar untuk membeli beberapa bahan dan sekaligus mencoba mendapatkan beberapa sayuran gratis. Sayangnya sayuran gratis yang banyak kami dapat hanya sawi putih, kacang panjang (tapi sayangnya ternyata banyak yang sudah busuk) dan sawi hijau sehingga untuk bayam, kangkung dan toge, kami mesti membelinya.

Sampai dipepi, langsung dicuci dan dimasak sambil menunggu teman-teman lainnya yang mulai berdatangan satu persatu. Berhubung banner Food Not Bombs yang kami punya dahulu hilang, kami mesti membuatnya lagi. Namun karena sampai sekarang belum selesai, akhirnya diputuskan untuk membuat stensilan logo FNB pada tiga lembar karton besar bewarna oranye untuk tabling kali ini. Begitu semuanya selesai, jam sudah menunjukan hampir jam 1 siang. Langsung dua orangdari kami berangkat ke lokasi dengan Bajaj, sementara yang lainnya menggunakan motor.

Taman Sambas tidak begitu ramai siang itu, beberapa teman lainnya ternyata sudah datang terlebih dahulu. Langsung kami pasang banner-banner karton tadi, makanan mulai dihidangkan dan beberapa lainnya membuat sebuah banner lagi bertuliskan "Yuk, makan gratis!" yang dipasang di pinggir jalan untuk mereka yang sekedar lewat supaya tahu mengenai kegiatan apa ini sebenarnya. Karena kalau hanya sekedar logo Food Not Bombs saja, pasti masih banyak yang belum tahu mengenainya.

Oh ya, ada sebuah tas besar berwarna hijau yang diletakkan disamping makanan yang dihidangkan. Itu adalah tas kampanye Barter Bag yang berisi berbagai macam barang yang bisa ditukar dengan barang lainnya, terbuka untuk siapapun, selama selalu ada barang ditukar dengan barang lainnya, tidak ada uang yang terlibat dalam kampanye ini. Namun ternyata saat ada beberapa pemulung yang ikut makan, lalu terfikir untuk menawarkan pada mereka bila mereka tertarik untuk mengambil beberapa barang di dalamnya. Buat mereka, barang-barang tadi mungkin bisa menjadi uang, bukan? Alhasil ada banyak sekali barang yang kemudian memang diambil dan juga dibarter dari dalam tas selama tabling berlangsung.

Pembacaan dongeng pun juga digelar untuk beberapa orang anak yang sedang bermain di taman bersama ibu mereka. Sementara beberapa dari kami berjalan-jalan di sekitar lokasi untuk menginformasikan kegiatan ini kepada tukang parkir, satpam, pengamen serta pemulung, juga tukang warung. Senangnya waktu beberapa dari mereka kemudian datang dan ikut makan bersama kami, ngobrol dan duduk sebentar sebelum kembali ke tempat mereka bekerja. Makanan pun ternyata bertambah banyak dengan tahu dan tempe goreng tepung serta pudding coklat sumbangan beberapa teman baru. Terima kasih banyak ya, teman-teman!

Dua jam kemudian makanan sudah semakin sedikit dan langit semakin gelap, cepat diputuskan untuk membungkus sisa makanan untuk dibagikan kepada mereka yang berada jauh dari lokasi karena memang kebetulan ada beberapa dari kami yang langsung pergi ke sebuah acara. Separuh dari kami membereskan peralatan dan mengumpulkan sampah serta sweeping taman untuk peralatan makan yang masih berceceran di sekitar taman. Kami sempet berfoto bersama sebelum menutup tabling hari itu.

Separuh dari kami kembali ke dipepi untuk mencuci piring dan menunggu hujan berhenti, sementara yang lainnya langsung pergi ke sebuah acara. Evaluasi belum sempat diadakan, namun kami berjanji untuk berkumpul lagi setelah ini untuk evaluasi.

What a wonderful Saturday tabling! What a great gathering of friends! See you on the next tabling, guys! And yes, foods are supposed to be free.


-V-

Tuesday, December 28, 2004

Tabling Ke-lima FNB, 30 Mei 2004, Galeri Oktagon.

Hal yang paling mengesankan dari tabling kita kali ini adalah: masak nasi dan masak sayur yang kita pungut gratisan dari pasar. Yuppie! Hehehe!

Karena selama ini udah beberapa kali tabling kita nggak pernah masak nasi dan lauk, selalu makanannya sumbangan sudah matang atau kita beli dengan dana yang ada. Makanya kali ini terasa spesial! Nasi kita dapatkan dari sumbangan sepuluh kilo beras dari ibu salah satu teman, sedangkan sayur-sayuran adalah berkat teman-teman di NFRS yang mengumpulkan sayuran di pasar dekat rumah mereka dan kemudian membawanya ke tempat kita untuk dibersihkan dan dimasak. Nah, sekarang kita mau cerita tentang koki kita nih!

Bayangkan, akhirnya kita punya koki untuk tabling! Yuppie Yuppiee! Hehehe! Koki kita ini adalah seorang ibu penjual jus yang tinggal dekat rumah, dia memang sudah dekat dengan kita karena saking seringnya kita beli jusnya dan kita memang suka cerita-cerita tentang kegiatan kita ini. Senang sekali waktu dia menawarkan untuk memasak sayuran serta kemudian bahkan menyumbang bakwan jagung lezat serta sambal tomat nonjok buatannya! Yumm..

Nah, sekarang kita baru mau cerita tentang persiapan kita untuk tabling kali ini. Walaupun kita sempat mengadakan pertemuan beberapa hari sebelumnya, namun ternyata tidak banyak yang datang untuk ikut menyiapkan segala sesuatunya di hari H. Beberapa orang yang menginap dari sehari sebelumnya serta seorang kawan yang datang dari pagi sekali terlihat sibuk mondar mandir mengambil nasi dan lauk dari rumah ibu jus dan dikumpulkan di Pepi. Untungnya beberapa teman datang lagi dan akhirnya sejam sebelumnya kita putuskan untuk berangkat walaupun belum semuanya berkumpul, tapi waktu sudah tinggal sejam lagi sebelum waktu yang kita janjikan untuk membuka tabling kita. Mereka yang belum datang kita telpon satu persatu dan kita minta mereka langsung ke tempat acara saja.

Disana, kita mendapat lokasi yang sangat strategis. Tepat di depan pintu masuk, sehingga semua orang pasti melewati lokasi kita sebelum menuju tempat pameran dan bazar di lantai dua dan tiga. Beberapa teman langsung mempersiapkan meja serta beberapa lainnya berdiri didepan pintu sambil membagikan flier tentang Food Not Bombs ini. Sayangnya setelah itu diskusi dimulai dan saya nggak tahu bagaimana tabling berjalan, kecuali waktu diskusi sudah selesai dan saya kembali ke lokasi. Beberapa orang peserta diskusi datang dan mengambil makanan (mungkin akibat diberitahu oleh moderator diskusi juga tadi) serta mengobrol, tapi sayangnya nggak ada yang tampak tertarik untuk mengobrol tentang FNB ini. Entah teman-teman lainnya, mungkin berbeda dengan pengamatan saya ini.

Sayangnya kita lupa untuk menyiapkan beberapa bungkus makanan untuk didistribusikan pada anak jalanan dan pengemis di sekitar tempat acara, sehingga waktu semua makanan sudah habis, kami hanya mendistribusikan makanan pada para peserta dan pekerja di tempat acara saja. Menurut saya, kita mestinya tak melupakan hal ini karena itu artinya sasaran dari FNB ini tak sepenuhnya berhasil. Semoga kita tak lupa akan hal ini di tabling selanjutnya.

Jam 4 sore lewat kita sudah membereskan semuanya dan bersiap-siap pulang, tiga orang langsung berangkat lebih dulu membawa barang-barang serta yang lainnya menyusul kemudian. Jam 7 malam kita semua sudah kembali ke Pepi namun tak diadakan evaluasi karena kebanyakan teman kita yang lainnya sudah pulang duluan. Oh ya, dari kotak donasi dana yang terkumpul adalah Rp 12.000,-.

Segini dulu reportasenya, teman teman! Terima kasih banyak sekali untuk teman-teman yang sudah ikut dan membantu serta membuat tabling yang kali ini beda banget sama tabling biasanya jadi lebih seru.



-V-

Tabling Ke-empat FNB, 6 April 2004, gig RAMBO - Ciledug.


Halo kamerad semuanya, maaf sebelumnya kalo reportase ini sangat amatlah telat, karena eh karena baru sekarang bisa kasih kabar ke elo semua soal tabling FNB digigs RAMBO, minggu kemaren.

Baik, persiapan kali ini juga mendadak, karena belum pastinya dimana tempat acara Rambo 1 hari sebelum mereka main di Jakarta, untungnya ada kabar pada malamnya tentang kepastian gigs Rambo yang dari beberapa kawan yg mengorganize gigs ini, tempatnya di daerah Ciledug.

Menu tabling kali ini seperti menu tabling di Mustopo kemaren kripik singkong dan gorengan serta air mineral. Tabling kali ini persiapan tranpsortasi dan evakuasi perlengkapan buat tabling udah ada yang pegang, dan malamnya semua peralatan perang itu udah pada dibawa jadi lumayan kebantu banget ini semua berkat kesigapan teman-teman (thanks brt Mandra, Ega, Geboy cs). Besoknya, gw datang ke Pepi jam 2 siang, buat persiapan akhir bersama temen-temen yang ada disana, setelah semuanya komplit ternyata masih harus nunggu 1 orang temen lagi, wah lama nih........ dalam hati gw udah mikir kalo gini terus bisa ketinggalan ngeliat RAMBO dong, akhirnya temen itu di sms dan dia nggak bisa datang, gitu dong kasih kabar kalo nggak bisa nongol, karena kita juga memperkirakan juga jarak ke tempat gigs itu berlangsung apalagi belum macetnya.

Jam 3 kita semua akhirnya berangkat, sebelumnya ada yg berangkat lebih dulu karena ada yg pake motor, dan kita terjebak di kemacetan pasar Ciledug selama 1 jam, dan lagi panasnya didalam bis metro mini merah itu. Tiba-tiba sms salah seorang temen gw bunyi dan bilang kalo RAMBO udah main di urutan 1, sial...! rusak dah mood gw seharian ngimpi pengen nonton RAMBO cuman gara-gara macet sialan ini, setengah 5 kita sampai, dan tabling FNB sudah dimulai karena mengingat keterbatasan waktu yg dikasih Rt setempat buat gigs ini. Tablingnya sendiri gw rasa spot tempatnya kurang tepat karena stand tablingnya mengambil posisi di tempat yang hawanya panas (maklum gigs RAMBO ini diadain di lapangan tempat tinggal warga setempat, lapangan Badminton, jadi bisa bayangin sendiri gimana rasanya kalo tabling di lapangan terbuka di sore hari yg menyengat) lain kali nyari spotnya yg ademan dikit, okeh. Tabling FNB kali ini cuman berjalan 2 jam karena waktu yg terbatas tadi, semua makanan habis, beserta minumannya, leaflet yg dibawa beberapa temen ada yg dibagi ke beberapa warga, ada juga ke beberapa temen, respon kali ini adem ayem aja karena mungkin tempatnya yang kurang kondusif (panas, bla, bla..), dan gw serta beberapa temen moodnya sudah rusak duluan akibat sms petaka itu, he..he..he.. Untungnya temen-temen yg mengorganisir acara ini masih mau berbaik hati untuk ngebujuk Rambo untuk main lagi untuk terakhir kali sebelum acara selesai, dan gw bisa ketawa lagi serta merekam beberapa aksi mereka. Dana yg didapat dari kotak donasi lumayan cukup dan dana itu kita split untuk keperluan biaya perlengkapan dan tetek bengek acara gigs RAMBO, dan sisanya untuk dana persiapan untuk tabling selanjutnya.

Ok, kamerad semuanya sampai disini dulu reportase "CEPAT" ini. Thanks buat semua temen-temen yang udah ngebantu pas tabling, I love u all.

(Inal)

Tabling Ke-tiga FNB, 1 April 2004, Kampus Universitas Moestopo.


Tabling paling mendadak yang pernah dibuat sejauh ini.

Jujur aja tadinya kita udah mau nggak tabling karena banyaknya teman-teman kita yang sakit dan pergi ke luar kota, tapi ternyata dua hari sebelumnya kita dapat kabar kalau kegiatan ini sudah masuk di pamflet acara; maka akhirnya pas dua malam sebelumnya ada beberapa dari kita yang memang sedang kumpul, kita putuskan untuk membuat tabling ini. Otomotis kita cuma punya waktu satu setengah hari buat persiapan.

Untung juga acaranya mulainya setelah jam 6 sore, jadi dari pagi sampai siang kita masih bisa menyiapkan segala sesuatunya pada hari yang sama. (Walaupun memang mestinya kejadian kayak begini nggak berulang lagi ya, teman-teman! Hehehehe!)

Dari menunya aja bisa kelihatan betapa terburu-burunya kita: kripik singkong dan berbagai macam goreng-gorengan yang dibeli di pasar. Memasak makanan seperti biasanya memang tidak mungkin karena mepetnya waktu persiapan kita hari itu. Tapi mungkin juga karena sejauh ini kita sudah melakukannya beberapa kali, untuk mempersiapkan materi dan peralatannya memang sudah bisa langsung berjalan dengan sendirinya pada hari yang sama tanpa banyak kesulitan. Beberapa teman yang sudah sempat dihubungi sudah mulai berdatangan dari siang hari ke markas Pepi.

Sampai di tempat acara jam enam sore, ternyata teman-teman kita yang berkumpul disana sudah lumayan banyak. Tapi kita masih menunggu meja dan air mineral yang memang belum sempat kita bawa seperti biasanya karena kita nggak dapet pinjaman kendaraan buat membawanya. Sejam lebih kita menunggu meja namun spanduk besar FNBnya sendiri sudah langsung terpasang dengan lebar dan gagahnya di depan tempat acara beberapa menit setelah kita tiba disana.

Air mineral adalah yang paling terakhir siap di meja kita, namun itupun beberapa orang teman sudah tampak mendatangi meja sambil mengambil kripik atau gorengan yang sudah dihidangkan. Karena ini sebuah acara pemutaran film di kampus dan kebetulan yang membuat acara ini memang teman-teman kita yang kuliah disana, rasanya memang jadi nyaman dan asik. Sekaligus bertemu mereka dan semoga dapat banyak teman baru.

Saya sendiri sempat mengobrol dengan beberapa mahasiswa disana serta teman-teman lain juga tampaknya mulai mendapat satu dua teman baru yang tertarik untuk ikutan kegiatan ini. Beberapa teman lainnya sudah mulai berjalan berkeliling membagikan flier serta membawa kotak donasi sambil menginformasikan tentang meja FNB kita yang terletak dipintu masuk. Sementara itu film demi film terus diputar, dan kami juga ikutan menonton sambil makan makanan yang ada. Heheheh!

Tiba-tiba salah satu film yang diputar adalah FNB di Kroasia! Sumpah, keren banget! Mereka menyajikan makanan panas berupa sup sayuran serta banyak sekali buah-buahan segar yang juga disajikan disana. Yumm! Terlihat antrian panjang orang-orang serta wawancara dengan beberapa orang yang tampaknya jadi koordinator acara ini. Sayangnya tak ada terjemahannya, sehingga mungkin selama film itu diputar banyak penonton yang bertanya-tanya tentang kegiatan itu tadi. Kebetulan kan memang tabling kita malam itu juga bukan FNB besar seperti yang ada di film itu.

Lagi asik-asiknya nonton, tiba-tiba salah satu teman yang juga anak kampus situ mendekati saya dan meminta salah seorang dari kita untuk menjelaskan mengenai kegiatan FNB ini kepada penonton. Rasanya memang pas karena kebetulan kan film yang sedang diputar juga tentang FNB kan? Hmm...betul juga, mumpung dikasi kesempatan kenapa tidak digunakan?

Tepat saat film FNB di Kroasia tersebut selesai, saya pun kemudian bercerita sedikit tentang tujuan kami membuat kegiatan ini secara umum kepada para penonton yang ternyata memberi sambutan yang positif banget! Senang sekali.

Karena waktu sudah semakin larut namun jumlah makanan kami jumlahnya tak kunjung berkurang dengan cepat, akhirnya kami memutuskan untuk membawa makanan tersebut ke tengah-tengah penonton sambil membagikan flier dan menyodorkan kotak donasi. Dan ternyata memang ini berhasil membuat makanan dan flier cepat terbagi juga kotak donasi semakin banyak terisi.

Tepat saat film terakhir selesai diputar, kami pun sudah beres-beres untuk menutup meja FNB kami malam itu. Tak sempat ada evaluasi, namun kami sudah membuat janji untuk bertemu di markas PePi hari Senin sore untuk evaluasi kegiatan tabling kami dua kali terakhir ini. (Iya,kita utang evaluasi nih!)

Tabling kali ini terasa cukup memuaskan karena tetap dapat berjalan walaupun sempat ada keributan antar mahasiswa kampus di sekitar tempat kami membuka meja. Juga banyaknya teman-teman yang datang serta mungkin juga karena kami kebanyakan memang menyukai lokasi tabling kali ini:)

Sampai ketemu di tabling selanjutnya ya, teman teman!


-V-

Tabling Ke-dua FNB, 21 Maret 2004, Parkit Dejavu Club.


Minggu yang panas dan macet oleh kampanye (yang nggak penting itu). Setelah rencana tabling yang semula kita jadwalkan tanggal 19 gagal, karena tempat dan jam acara yang berubah hanya beberapa jam sebelum acara; akhirnya kita berhasil juga mengadakan tabling pada tanggal 21 ini.

Kali ini, kita tidak mendapat bantuan kendaraan yang cukup besar untuk membawa dispenser namun untungnya banyak sekali teman-teman yang menggunakan motor pada hari tersebut sehingga banyak barang-barang perlengkapan tabling hari itu yang tetap berhasil kita bawa kesana menggunakan motor.

Ada tambahan dua orang teman baru dari tabling sebelumnya yang memberi kita baskom untuk makanan serta tentu saja beberapa teman-teman dari luar kota yang memang sedang berada di Jakarta, membuat tabling kali ini rasanya jauh lebih meriah dari tabling kita sebelumnya! Hehehe!

Jam dua lewat meja FNB kami sudah tertata rapi di depan pintu masuk gedung tempat acara. Ternyata memang tak perlu sama sekali ijin atau pemberitahuan apa-apa, bahkan kepada pihak yang membuat acara itu. Datang, Buat dan Bagi :)

Menu kita hari ini adalah kripik singkong dan bihun goreng sayur. Dengan sumbangan air mineral satu galon dan beberapa peralatan tambahan, tabling kali ini memang biayanya ternyata tidak sebesar tabling sebelumnya.

Sebelum bihun goreng kami sajikan, kami memutuskan untuk menyisihkan beberapa bungkus terlebih dahulu yang akan kami berikan kepada anak jalanan dan pemulung yang ada di sekitar tempat acara. Sehingga semua orang yang ada di dalam dan di luar acara juga bisa menikmati makanan hari itu. Ada dua puluh bungkus bihun yang kami siapkan sebelum kemudian bihun goreng tersebut kami sajikan untuk mereka-mereka yang datang ke acara ini.

Namun ternyata, respon yang kami terima dari mereka mereka yang ada di tempat acara sangatlah tidak seperti yang kami harapkan. Bahkan keinginan mereka untuk mengambil makanan dan minuman yang kami sajikan pun tampaknya kecil sekali hingga akhirnya beberapa teman kami yang memulai untuk makan dan minum sambil menawarkan flier. Jauh sekali dengan respon yang kami terima dari tabling sebelumnya di TIM, padahal kami tadinya berharap karena ini adalah sebuah acara yang kami lebih sering datangi serta orang-orang yang kami lebih akrab dengan mereka, mestinya kegiatan kami ini akan jauh lebih seru responnya. Tapi ternyata, oh, ternyata :)

Saya sendiri kelelahan dan memutuskan untuk duduk-duduk di area belakang meja FNB tersebut sambil mengobrol dengan beberapa teman lainnya, saya tidak ingat jam berapa tepatnya saat akhirnya kita membereskan meja namun kalau tidak salah jam tujuh lewat. Donasi sudah terkumpul, air mineral tinggal sedikit, flier juga begitu serta teman-teman lainnya juga sudah sibuk lagi dengan lapakan dan kegiatan mereka lainnya.

Jam setengah delapan saya pulang duluan karena sakit, tapi saya dengar kalau semua bungkusan bihun tadi kemudian dibagikan pada anak-anak jalanan di perempatan Sarinah serta flier FNB yang kami buat bahkan juga dibagikan pada beberapa pengunjung McDonalds disitu :D

Terimakasih untuk berbagi, terimakasih untuk tertawa dan lelah bersama teman-teman ya!


-V-

Tabling Pertama FNB, 13 Maret 2004, Depan teater 21 - Taman Ismail Marzuki.


Malam minggu yang dingin dan bising. Bioskop TIM yang memang selalu penuh kalau malam minggu ternyata malam itu tetap ramai walaupun hujan sudah turun sejak siang. Kita yang tiba disana jam 18.30-an mendapat bantuan yang super keren, yaitu sebuah meja Satpam yang berhasil 'dipinjam' oleh salah seorang teman yang memang sudah duluan siap disana. Semula kita tak menyangka kalau posisinya akan tepat berada di depan pintu masuk bioskop. Tapi kemudian kita pikir, cuek lah! Kita siapkan aja dulu, kalau memang mesti pindah ya kita pindah. Gampang kan?


Dalam sekejap meja Food Not Bombs kami pun siap dengan semua tetek bengeknya. Segalon air mineral plus dispensernya, setumpuk flier, sekotak besar kripik singkong dan bolu keju serta sebuah kotak donasi. Perlahan orang-orang yang ada disana mulai memperhatikan dan begitu mereka membaca ada tulisan: "Gratis!" di meja kami.


Anak-anak sekitar yang memang banyak bermain disana langsung mencomot kripik singkong dan bolu keju tersebut sambil mengajak teman-temannya. Beberapa anak kampus disitu juga mulai mengambil makanan tersebut. Sementara beberapa orang yang datang untuk menonton tampaknya memang tertarik, namun lucunya lebih banyak yang akhirnya hanya mengambil flier dan membacanya sambil pergi tanpa mengambil makanan sama sekali.

Sempat sih kita dipanggil petugas bioskop ke kantornya, tapi setelah kita menjelaskan kalau kita sudah minta ijin dengan pihak TIM tapi karena hujan kita memutuskan untuk meletakan meja di depan bioskop dulu sebelum pindah ke tempat lainnya....kita diperbolehkan pergi. Tentu saja kita semua berharap supaya hujan nggak akan pernah berhenti malam itu! Hehehe!


Beberapa dari kita pun mulai berpencar dan membagikan flier serta perlahan makin banyak yang berkerumun serta mengambil makanan serta minuman. Yang saya ingat ada dua orang perempuan yang kemudian menghabiskan waktu agak lama di meja kita dan mengobrol banyak tentang kegiatan ini dan juga tentang kegiatan kami lainnya. Juga seorang wanita India yang ternyata adalah guru di Gandhi International School dan tampaknya sangat terkesan dengan kegiatan ini.


Akhirnya para pengamen yang biasanya manggung di sudut kiri bioskop satu persatu mulai berdatangan dan menyiapkan peralatan manggung mereka. Karena mereka mempunyai sistem pengeras suara dan orang-orang yang sebentar lagi pasti akan berkerumun di sekitarnya, kami sempatkan dulu untuk bicara dengan salah seorang dari mereka yang ternyata vokalis untuk menjelaskan tentang kegiatan kami ini. Kami juga meminta bantuannya untuk menjelaskan serta mengundang orang-orang untuk datang ke meja kami untuk makan dan mengobrol serta mengambil flier.


Lucunya, bahkan saat para pengamen itu mulai manggung dan orang-orang berkerumun, mereka mereka yang datang dan makan makanan kami (yang sekarang sudah berganti jadi Kwetiaw Goreng karena kripik dan bolu kejunya sudah habis) tetaplah anak-anak sekitar serta anak kampus disitu. Jarang sekali ada penoton bioskop atau yang lainnya yang makan makanan kami. Tentu saja sang pengamen dan beberapa teman-teman pengamennya juga ikut makan dan mereka tampaknya terkesan dengan kegiatan ini.


Jam sebelas malam, kami memutuskan untuk menutup meja dan membereskan semuanya. Makanan pun tinggal sisa sedikit, flier hampir habis, donasi yang terkumpul juga lumayan banyak. Kami berkumpul di depan gerbang TIM sebentar untuk evaluasi singkat tentang kegiatan malam ini sebelum kembali ke rumah Pepi.


Tabling FNB pertama kali yang seru, dimana kami sendiri belajar banyak malam itu. Kami tahu dimana kami belum maksimal, dimana kekurangan dan bagian yang kami rasa juga paling menyenangkan adalah setelah ini kami jadi lebih siap untuk tabling-tabling selanjutnya.

(Iya, laporan ini mestinya memang sudah dikirim beberapa minggu lalu :)

Buat teman teman semua, terimakasih banyak sekali!


-V-